kisah ini pernah terjadi pada Syaikhul Akbar Waliyullah
Junaidi Al Bagdadi, ketika sedang berada di masjid menunggu jenazah yang akan disembahyangi. Tiba-tiba datang seorang pengemis yang meminta-minta, melihat hal itu beliau berkata dalam hati: “Andaikan pengemis itu mau berusaha, niscaya lebih baik baginya dan tentunya tidak jadi pengemis.” Kemudian malam harinya
beliau bangun sebagaimana biasa, untuk melakukan shalat malam dan zikir. Tapi tidak biasa-biasanya beliau merasa sangat berat di dalam melaksanakannya, akhirnya beliau hanya duduk hingga tertidur, di dalam tidurnya bermimpi disuguhi hidangan yang masih tertutup rapi. Kemudian dibukanya dan beliau sangat terkejut ketika melihat tumpukan daging, di antaranya ada tersembul wajah pengemis yang tadi siang ada di depan masjid. Belum lepas rasa kaget beliau, terdengar suara lantang: “Makanlah daging itu, karena kamu
telah mengghibah orang tersebut. “Beliau baru ingat kejadian tadi siang dan terlintas dalam hati: “Padahal aku hanya bicara dalam hati, tidak sampai membicarakan kepada orang lain.” Kemudian langsung dijawab: “Orang yang seperti kamu tidak layak melakukan ghibah, sekalipun dalam hati, seolah-olah kamu tidak mengerti hikmah Allah. Karena itu, kamu harus meminta maaf kepadanya.” Lalu beliau terbangun dan bergegas mencari pengemis. Selang beberapa hari kemudian,
baru bertemu dengan pengemis itu di sebuah sungai. Beliau perlahan-lahan berjalan mendekati pengemis tersebut sambil mengucapkan “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam,” jawab pengemis. Sebelum beliau lebih dekat dan sempat
berbicara, pengemis tersebut lebih dulu bertanya: “Apakah kamu akan mengulangi lagi, wahai Abul Qasim?” “Tidak,” jawabnya. Kemudian pengemis tersebut berkata lagi: “Sudah pulanglah, semoga Allah mengampuni dosamu.”
Ghibah dapat dikategorikan pembunuhan martabat orang lain, karena dengan menggunjing seseorang berarti sama halnya menyiksa secara perlahan-lahan dan membenamkan kehormatannya. Sebagai dampaknya, orang yang menjadi korban akan kehilangan kepercayaan orang lain dan dapat menutup pintu-pintu rezeki baginya.
Maka sudah selayaknya, bagi orang-orang yang suka ghibah tergelincir ke dalam jurang neraka, akibat dari perkataannya sendiri. “Sesungguhnya adakalanya seorang hamba berbicara sepatah kata yang tidak diperhatikan, tiba-tiba ia tergelincir ke dalam neraka oleh perkataan itu (yang dalamnya) lebih jauh dari jarak antara timur dengan barat.” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra.).